Priya Santosa

Priya Santosa, S.Pd, M.Pd.I ...

Selengkapnya
DNAKU MIRIP DANARTO

DNAKU MIRIP DANARTO

Hari ini terhitung selang sepekan kepergian sang legenda prosais, surilis-religius, sufis, Danarto. Aku memang belum sempat baca semua cerpennya. Kata orang Aku memiliki DNA yang hampir mirip dengan sang legenda. Aku menyuarakan jalan pikiran realtias yang tak tampak, jalin menjalin menjadi satu. Seperti dunia akhirat ini yang bergandengan. Kata orang DNA pikir yang kumiliki mirip sang legenda.Aku begitu senang membaca karyanya yang bernama berhala. Mirip dengan karya iwan simatupang, "Ziarah". Ataupun "Gergasi". ataupun "ikan-ikan laut merah". ini ada butiran butiran yang selalu kukenang. "Apakah orang ini sudah siap dicabut nyawanya?” nada bertanya Izrail yang entah ditujukan kepada siapa". “Belum. Orang ini belum siap untuk dicabut nyawanya,” jawab rambut di atas kening saya. Ruang dan waktu seketika diliputi kehampaan dan saya bergulir persis batang pisang dari tebing ke sungai. Tidak. Sungguh tidak. Ini tidak benar. “Orang ini sama sekali belum siap untuk dicabut nyawanya,” seru kaki saya. Tidak. Sungguh tidak. Ini tidak benar. Saya merasa diperlakukan tidak adil. Bahkan merasa ditindas. Bagaimana mungkin rambut di atas kening dan kedua kaki saya telah bertindak tanpa seizin saya, menjawab pertanyaan Malaikat Izrail. Ini kelancangan yang keterlaluan. Bagaimana mungkin mulut saya justru terkunci menghadapi saat yang paling genting ini. —“Dinding Anak. Sang legenda itu telah tiada. Suaranya nyaring tanpa sapa. Kepasrahan dan pergumulan al maut sudah dinikmatnya. Aku begitu menikmati setiap denting syaraf syaraf dan neuron kembaranya dalam ruang dan waktu nisbi. Bagaikan sebuah kepasrahan. Sang legenda begitu dekat dengan al maut. Kadang diajaknya Izrail bersenda gurau. Gurauan yang menyihir pembacanya. Pesona diksi sang legenda kadang menumbangkan kalbu pembaca. Ketika membaca "Lailatu Qodar"nya sang legenda, aku merindukan perjumpaan dengan sang Khalik. AKu merasa mengalir dan hanyut dalam cerpen itu. Luar biasa! Kini sang Legenda telah diharIbaan sang kekasih. Pada malam rabu itu, saat sang legenda datang memenuhi panggilan Kekasih-Nya, saat itu aku menimang karyanya"Adam dan makrifat". Aku merasakan DNA ku ada sasmita sunyi yang mengeretku. Saat ittu ada rasa ketar-ketir. Melihat postingan sahabat di group. Berita kepergian sang Legenda. Sejujurnya DNA ku menolak berita picisan itu. Aku begitu mengidolakan sang Legenda. mengapa ada kematian? Bisik hati ini. Sungguh ini makrifatullah. Begitu dekat ia menerobos pendulum kerandanya. Antara dunia sastra dan syariat. sang legenda, seolah tahu betul bahwa dunia selalu mempunyai kemungkinan-kemungkinan tidak terbatas, sebab ada Tuhan yang Maha Tak Terduga juga manusia sebagai salah satu makhluk-Nya yang tak terduga pula. Perkara tersebut, agaknya menyadarkan kita yang kerap dikerubuti tameng-tameng konvensi dan pakem yang ada sebelumnya sehingga membuat pemahaman kita seolah dikerangkeng dan menutup segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. DNAku pernah memberontak. Mengapa manusia dipisahkan dengan barzakh? kok Tidak langsung di sidang di mashyar?Ternyata sang legenda telah menjawab ketidakrasionalan pikiranku. Ia mendekonstruksi kenisbian dan kefanaan jasad manusia dalam karyanya "berhala". Begitu sederhana mengkreasikan proses kematiaan. Ia mengejawantah dalam peradaban yang nyastra.Tetapi, tentu dengan kompleksitas semacam itu, meski dengan gaya bahasa yang sederhana, mengalir dan tidak terlalu ‘nyastra’, karyanya untuk dibaca lebih dari sekali untuk mencari benang merah dan titik tolak dalam tiap cerpen. Bahkan bila perlu adalah membaca referensi lain atau cerita lain untuk membiasakan mengenal bacaan atau cerita yang cukup berat dan serius untuk benar-benar memahami maksud yang disampaikan sang legenda, Danarto. Sekali lagi selamat jalan. Aku masih melihatnya tersungging senyuman, sembari ia melambaikan tangan. Kedua malaikat itupun mendatanginya. "Selamat datang hambaku, di Alam kesunyian. Begitu cepatnya engkau kembali. Al maut yang telah lama engkau akrabi dengan sang Kekasih. Selamat tinggal pada kematian. Rayakanlah ini hari raya yang sesungguhnya. wallu alam!

Madiun, April 2018

penulis Alumni BIMTEK SAGUSABU

KELAS NGAWI, P4TKIPA CIMAHI

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Inilah orang biologi yang didalm DNAnya terdapat karakter penulis yang mumpuni. Terlihat dari susunan bahasanya. Subhnallah...luar bisa Pak Pri.Tulisan bapak sarat makna. Salam sukses selalu , baarakallah...Pak.

16 Apr
Balas

Luar biasa teman sekamar di Hotel "angker" Maharani Jakarta...

20 Apr
Balas

Luar biasa teman sekamar di Hotel "angker" Maharani Jakarta...

20 Apr
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali