Priya Santosa

Priya Santosa, S.Pd, M.Pd.I ...

Selengkapnya

RESOLUSI DAN UTOPHIA PRESIDENKU ( 2015-2085)

Manusia itu nol,kertas kosong. Masa yang paling jauh adalah hari kemarin yang dilaluinya. Masa yang terdekat adalah hari esok yang dijalaninya. Dunia tidak pernah dimiliki oleh siapapun. Raja, -raja, Presiden-presiden, menteri, rakyat yang kaya, yang jelata semuanya tidak pernah memiliki dunia ini, sekalipun itu debu dan kerikil. Hakekat yang dimiliki manusia, apa yang ia telah sedekahkan, apa yang ia makan, dan apa yang ia pakai. Orang yang kuat di dunia ini pasti juga memiliki banyak kelemahan. Apalagi orang yang paling lemah di dunia. Satu zarah yang dimilki orang yang paling kuat, di dunia ini adalah pemberian dari Allah semata. Jika orang yang paling kuat itu punya kekuatan mengatur orang, makhluk, masyarakat, Negara, , itupun hakekatnya hanya mengatur orang, masyarakat, Negara tertentu saja. Negara Indonesia diperkirakan muncul generasi emas pada tahun 2045. Impian Indonesia tahun 2015-2085 telah dibentangkan oleh Prsesiden Indonesia Joko Widodo. Diantara impian sang Presiden tujuh puluh tahun ke depan: “Sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasanya mengungguli bangsa bangsa lain di dunia, masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religious dan menjunjung tinggi nilai nilai etika, , Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi dan peradaban, Masyarakat dan aparatur pemerintah yang bebas dari perilaku korupsi, terbangunnya insfrastruktur yang merata di seluruh Indonesia, Indonesia menjadi Negara yang mandiri dan Negara yang paling berpengaruh di Asia-Pasifik, Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia. Allahu akbar! Terkesan sesaat dengan impian sang presiden, aku pun menulis sebuah resolusi. Ya , rosolusi ini untuk diriku, keluarga. Membayangkan, pada saat tahun 2085 saat itu aku pun telah punah di ujung dunia yang fana. Ya akupun mesti tinggalkan dunia ini. Tentunya tujuhpuluh tahun ke depan setelah aku menuliskan resolusi ini, dunia pun berubah. Tentunya aku dan istriku ataupun siapapun setelah seratus tahun ke depan membaca tulisan resoluslku ini pasti dan pasti akan binasa. Begitulah, tujuhpuluh tahun ke depan dari saat sekarang ini, pesona teknologi maya, abstrak genetik, teknologi rekayasa metabolisme ataupun pengembangan kehidupan infrastruktur tanpa perlu tenaga tenaga manusia. Badai fatamorgana robot-robot, serta distruksi teknologi. Mengalir sejak aku tuliskan rosolusi ini. Tujupuluh ke depan, Setiap siswa, ataupun mahasiswa, yang bersekolah, kuliah, tiadalah membutuhkan perangkat-perangkat prima keseharian, buku teks, buku tulis, penggaris, peraut ataupun bahan bahan untuk sekolah. Yang siswa saat itu butuhkan, hanya selembar kertas kosong. Ya Kertas kosong yang nantinya akan digunakan tulis sekendak ketrampilan yang dikuasai. Setelah tidak sekolah apa yang akan mereka buat! Kertas kosong ini pun telah aku sodorkan pada anakku. Nak, camkanlah! tujuhpuluh tahun ke depan, setelah kamu terima kertas kosong ini, Tulislah, apakah yang ingin kamu buat untuk negeri besar ini!. Kenapa ayah, harus tujupuh tahun ke depan! Karena, pekerjaan yang akan kamu minati dan cari sesuai ijazah sarjanamu, itu tidak ada!. Kehidupan berada diawang-awang. Maksudnya, setiap oraang yang hidup pada saat itu, setelah tujupuh tahun ke depan aku menulsikan kisah ini, organ-organ tubub dan sel otak manusia menjadi beku dan berganti karet pelontar! Karet pelontar tersebut semacam kamera intai, yang bisa merekam keranda keranda imajinasi dan kreativitas manusia. Artinya, pada saat itu di negeri ini akan terjadi sebuah ledakan demografi penduduk! Apalah artinya itu? Artinya, Kondisi saat itu di luar kelaziman. Situasi disebut sebagai jendela demografi (window of demography) yang dapat berdampak kepada salah satu dari dua kemungkinan yakni: bonus demografi (demography dividend) atau justru sebagai kutukan demografi (demography diases). Indonesia terancam! Jendela demografi dapat menjadi bonus demografi apabila profil penduduk Indonesia berkualitas, sehingga merupakan potensi bagi negara untuk melakukan akselerasi ekonomi dengan menggenjot industri manufaktur, infrastruktur dan UMKM, karena berlimpahnya angkatan kerja. Sebaliknya, jendela demografi dapat pula berubah menjadi petaka atau kutukan demografi, yang akan menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara, manakala negara tidak melakukan investasi sumberdaya manusia (human capital investment). Aku beritahukan anakku, pada saat itu kamulah pemilik, penguasa negeri ini. Ayah berpesan, jikalau kehidupan tujuhpuluh ke depan itu benar-benar kamu miliki, berpedomanlah selalu pada cahaya empati setiap langkah, jagalah segumpal daging di ruang dadamu ini, agar tetap bersinar, inner beauty, kalbu disertai ikhlas dalam setiap diskusi dan paparan dimanapun engkau duduk didalamnya. Saat kamu datang di labirin fatamorgana ini sendirian. Saat itu kamupun siap dibaringkan di lahat juga sendirian. Ketika tujuhpuluh tahun ke depan, kamupun masih bisa bertutur pada anakmu, persis seperti apa yang ayah tuliskan di resolusi ini. Apa artinya itu? Ternyata usia yang kamu sangka lama dan panjang di dunia ini, hanyalah seutas tipuan belaka. Ya tipuan layang layang putus entah kemana. Semuanya pelengkap pelangi halunisasi di padang yang fana ini.. Sebab kenapa, karena pada saat itulah, ketika kamu bertutur detail lengkap, tulisan yang engkau goreskan tanpa ada yang terlewat. Resolusiku pada diriku, dan anaku tujuhpuluh tahun ke depan setelah tulisan ini terbaca: “janganlah kelebihan dan kreativitas, kecerdasan yang melingkar di pundakmu, jadi kutukan bagi bangsa yang besar ini! Satu etos spirit: “Ora et LAbora, dalam bingkai Inamal amalu bil niat!” wallu alam.

Madiun, April 2018

Penulis Aggota Litbang IGI Madiun Alumni Bimtek SAGUSABU Kelas Ngawi, P4TKIPA Cimahi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sangat menyentuh...!

15 Apr
Balas

ok

15 Apr

Subhanallah..., sarat dengan pesan yang mendalam. Luar biasa ...Pak. Baarakallah.

15 Apr
Balas

amiin. semoga bemarnfaat bagi yang membacanya

15 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali